Tertanam Didalam Rumah Tuhan

Mazmur 92:13-16,
13Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; 14mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. 15Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, 16untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Allah menghendaki agar kita tidak hanya bertumbuh, tetapi IA menghendaki agar kita bertumbuh subur. Dalam ayat 14, ada 3 poin penting yang perlu kita perhatikan, yaitu:

1. Di Tanam dalam Bait Tuhan
Tidak ditanam disembarang tempat, tetapi ditanam dalam bait Tuhan. Apa artinya di tanam? Di tanam disini bukan dalam arti jasmani, namun dalam arti rohani yang berarti kita terus ada hubungan dengan Tuhan dan berakar dalam Firman Tuhan sehingga kita dapat menghasilkan buah-buah perbuatan baik yang berkenan kepada Allah.

2. Bertunas
Benih setelah ditanam akan mengalami proses kematian. Tetapi setelah itu ia akan bertunas. Tanda bahwa ada kehidupan setelah ditanam adalah bertunas. Tunas itu akan terus bertumbuh menjadi pohon yang besar dan dari pohon itulah akan keluar buah-buah.

3. Berbuah
Jelas bahwa Allah menghendaki agar kita tidak hanya berbuah tetapi IA menghendaki agar kita terus berbuah. Bukan berbuah hanya pada masa muda saja, tetapi juga pada masa tua. Ada orang Kristen yang ketika mereka muda, mereka aktif melayani, mereka menghasilkan buah-buah perbuatan baik dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tetapi ketika sudah tua mereka tidak lagi berbuah. Mereka membenarkan diri dengan mengatakan bahwa mereka sudah tua, seolah-olah memang begitulah yang terjadi jika sudah tua. Hal ini tentulah tidak benar. Sesungguhnya janji Tuhan bahwa bahkan usia kita sudah tua, namun kita masih bisa produktif di dalam Tuhan. Usia dan keberadaan fisik kita tidak dapat menjadi penghalang untuk tetap menghasilkan buah-buah rohani.

Manusia seringkali membatasi karya Allah dengan pola pikir mereka yang sempit dan kompromi dengan kelemahannya. Tetapi Tuhan mau memberikan sesuatu yang lebih ke dalam hidup kita seperti yang dikatakan “menjadi gemuk dan segar” sehingga masa tua kita tetap berguna bagi Tuhan. Ini semua bisa terjadi jika kita terus berharap kepada Tuhan. Jika orang itu sudah tidak berharap lagi kepada Tuhan kemudian pasrah dengan masa tuanya, seolah-olah ia sudah mencetak masa depannya bahwa masa tuanya adalah masa dimana ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa – tinggal menunggu mati saja, maka ia tidak dapat lagi menghasilkan buah-buah rohani. Tetapi jika ia dengan yakin mempercayai Firman Allah dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, maka sekalipun usianya sudah lanjut, namun hidupnya akan menjadi kehidupan yang terus menghasilkan buah. Hidupnya akan menjadi teladan dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Biarkanlah Allah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar melalui hidup kita bahkan sampai hidup masa tua kita.

TEMPAT PENGGEMBALAAN

Hal ditanam itu sangat penting, mengapa? Kalau proses menanamnya betul, maka bertunas dan berbuah tidak menjadi masalah. Kalau menanamnya tidak betul; misalnya masih banyak batu-batu sehingga menghambat/mengganggu pertumbuhan akar atau ditanam pada media tanah yang tidak subur dan keras maka akan ada masalah dalam ia bertunas, apalagi untuk bertumbuh menjadi besar dan berbuah.

Pemazmur mengatakan bahwa mereka yang ditanam dalam bait Allah akan tumbuh subur, menjadi gemuk dan segar. Jadi hanya mereka yang tertanam dalam rumah Tuhan yang dapat tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah-buah yang baik. Arti lain dari tertanam dalam Bait Allah adalah digembalakan dalam Bait Allah. Alkitab berkata bahwa orang benar mendapati tempat penggembalaannya.

Amsal 12:26,
Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesat-kan mereka sendiri.

Tuhan memberikan tempat penggembalaan bagi orang benar sehingga ia dapat tertanam, bertunas dan kemudian dapat menghasilkan buah-buah yang tetap.

Hal itu tentu berbeda dengan orang fasik, yang tidak mendapatkan tempat penggembalaan. Mereka tersesat oleh pemikirannya sendiri. Mereka ikut gereja karena melihat tampilan luarnya saja, seperti gedung gereja yang bagus, fasilitas mewah dan berbagai atraksi menarik atau karena suatu jabatan dalam gereja. Itulah sebabnya ketika saatnya tiba dimana mereka menghadapi suatu pergumulan/masalah dalam gereja tersebut (mengalami proses kematian – seperti benih yang harus mengalami proses mati sebelum bertunas), mereka dengan mudah meninggalkan tempat penggembalaan itu. Mereka terus cari-cari tempat penggembalaan. Mereka suka pindah-pindah gereja. Setiap kali ada masalah. Mereka anggap bahwa itu adalah tanda ketidakcocokan mereka di gembalakan di tempat tersebut. Mereka telah menyesatkan diri sendiri dengan pola pikir yang salah.

R U T

Contoh yang patut kita teladani adalah kehidupan Rut (baca: Rut 1). Dikisahkan bahwa ada 2 orang wanita yang mengalami penderitaan yang sama beratnya karena apa yang telah terjadi dalam keluarga mereka, yaitu: Orpa dan Rut, yang sama-sama telah kehilangan suami mereka dan sekarang mereka bergantung hidup kepada Naomi, mertuanya. Sang mertua pun bukanlah seorang yang kaya tetapi seorang perantauan di Moab, seorang janda miskin yang tengah menderita karena kematian suami dan anak-anaknya.

Sekarang Orpa dan Rut sedang mengikuti Naomi yang mau pulang ke Betlehem. Namun ditengah jalan, Naomi menyuruh mereka untuk tidak ikut lagi dengannya dan kembali ke Moab. Hal itu dilakukan Naomi oleh karena penderitaan berat yang dialami oleh keluarga ini.

Namun dalam ayat 10, jelas dituliskan bahwa Rut dan Orpa sama-sama berkeras untuk mengikut Naomi. Akan tetapi seiring waktu, penderitaan itupun belum berakhir; dan atas saran Naomi, Orpa pun mengambil keputusan yang lain. Pada ayat 14 dituliskan bahwa Orpa mencium mertuanya dan pamitan untuk kembali ke Moab.

Sejak saat itulah, nama Orpa tidak pernah lagi disebut-sebut. Kisah hidup Orpa selanjutnya tidak pernah lagi ditulis. Seolah-olah ia seperti pohon yang tidak lagi menghasilkan buah. Ia tidak lagi memberi teladan/contoh yang baik. Orpa telah melepaskan imannya kepada Allah dan kembali ke Moab.

Namun hal itu berbeda dengan kehidupan Rut. Rut tetap teguh sekalipun Naomi telah menyatakan bahwa tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari dirinya. Artinya bahwa ke depan, bila Rut tetap mengikuti Naomi, maka Rut akan menjalani penderitaan yang lebih berat lagi. Akan tetapi hati Rut tidak gentar, imannya tidak gugur sekalipun harus menjalani masalah demi masalah.

Sikap Rut inilah yang mengungkapkan bagaimana kualitas hidupnya. Rut adalah keturunan Moab, suatu bangsa yang tidak mengenal Allah, namun ternyata Firman Tuhan yang ditanam oleh Naomi dalam hidup Rut telah bertunas, bertumbuh dan akan berbuah.

Apa yang ada dalam hati seseorang akan terungkap melalui perkataannya. Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:16-17). Perkataan inilah yang menyatakan keteguhan imannya kepada Tuhan. Sekali ia mengikut Tuhan, ia tidak lagi mau berbalik dari pada-Nya, bahkan sekalipun untuk itu ia harus melewati lembah bayang-bayang maut.

Sebab tidak selamanya bahwa jalan yang banyak menghadapi masalah/pencobaan adalah bukan jalan Tuhan. Justru banyak kali Allah memanfaatkan masalah sebagai alat/jalan untuk membawa kita kepada kemuliaan dan memunculkan kita sebagai pemenang.

Dari sikap hidup Rut kita dapat ketahui bahwa Rut benar-benar telah tertanam dalam bait Suci Allah. Pencobaan kecil atau besar, tidak bisa menghancurkan imannya. Adakah kita memiliki kualitas keKristenan seperti ini; yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun juga?

Bahkan ketika Naomi membujuknya lagi untuk kembali ke Moab, Rut berkata: “jangan desak aku”. Apakah kita dapat mengeluarkan perkataan yang tegas seperti ini ketika ada orang yang membujuk kita untuk meninggalkan tempat penggembalaan?

Kualitas keKristenan seperti inilah yang membuat Rut terpilih sebagai jalan untuk menurunkan Tuhan Yesus didunia. Siapakah Rut? Ia adalah wanita biasa yang sama seperti kita, yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia telah memelihara imannya dan bertumbuh dalam Firman Tuhan serta telah menghasilkan buah. Buah-buah ketekunannya bisa kita nikmati hingga sekarang.

Rut merupakan satu-satunya wanita yang masuk dalam daftar silsilah Tuhan Yesus sekalipun ia adalah wanita sederhana, namun ia telah menjadi pengukir sejarah. Biasanya perempuan tidak bisa dimasukkan dalam daftar silsilah tetapi kali ini Matius diberikan satu inspirasi oleh Roh Kudus untuk memasukkan nama Rut (Matius 1:5). Ia terbukti sebagai wanita yang perkasa, setia dan taat. Ia mengikut Naomi bukan dengan motivasi, bukan karena Naomi orang kaya, bahkan ketika ia dan Naomi telah sampai di Betlehem, Rut tidak bisa langsung hidup enak. Rut harus bekerja keras diladang milik Boas.

Ketekunan dan kegigihan Rut inilah yang ditangkap oleh Allah dan dijadikan sebagai teladan bagi umat-Nya dari generasi ke genarasi. Kalau kita mau rencana Allah digenapkan dalam hidup anda, maka relakanlah diri Anda untuk melalui titik-titik krisis.

Rut telah memberi contoh/teladan bagi kita. Ia tidak lari ketika ada dalam masalah. Ia tidak meninggalkan Naomi (otoritasnya) ketika mereka harus mengalami saat-saat yang tidak mengenakkan itu.

Dalam suatu penggembalaan, kadang kitapun mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan. Dapatkah anda tampil sebagai pribadi yang tangguh seperti Rut? Jangan tinggalkan tempat penggembalaan Anda, sebab Tuhan selalu punya rencana yang indah di tempat penggembalaan bagi orang yang setia dan tekun. Amin.

Pembicara : Pdt. Paulus Yedid Yah
Minggu, 14 Februari 2010

About the Author