Penyembahan dan Pengorbanan

Perjalanan yang panjang dalam pelayanan pujian dan penyembahan, sebagai singer, pemusik, worship leader dan choir merupakan suatu kisah. Bagian kehidupan yang sangat menyenangkan ketika kita dipilih dan dilayakkan menjadi kaum Lewi untuk berdiri di garis depan menaikkan pengagungan kepada Allah kita, dan menjadi rekan sekerja hambaNya yang dipilih menggembalakan umat kesayanganNya. Sebagaimana kehidupan manusia akan berhenti ketika jantung manusia berhenti berdetak, kisah ini pun akan berhenti ketika jantung penyembahan itu tak berdetak lagi.

Kisah Abraham mempersembahkan Ishak. Ishak mengarahkan pikiran saya kepada harta terbaik dan terbesar yang dimiliki Abraham ketika itu. Alkitab katakan Abraham diminta mempersembahkannya sebagai “korban”. Penyembahan intinya adalah suatu persembahan yang dilakukan dengan seluruh kesadaran kita. Tidak ada penyembahan tanpa persembahan. Tetapi jantung dari persembahan Abraham adalah korban. Tanpa “korban”, Abraham tak akan melangkah. Tanpa kerelaan “berkorban”, mustahil Abraham melakukan persiapan untuk membawa kayu, api dan pisau untuk mewujudkan persembahannya.

Kejadian 22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Keindahan penampilan tim kita di panggung pelayanan tidak seindah keberadaan tim kita dibalik panggung itu. Mungkin sebagian saudara tidak setuju dengan ini, karena kadang-kadang saya juga berpikir bahwa apa yang tampil di panggung sebagiannya adalah pencerminan yang ada sebelum di panggung.

Tetapi yang saya maksudkan adalah, dibalik pelayanan penyembahan kita, tidak sedikit keluhan, beban, air mata, kejengkelan, kekecewaan.. apapun itu yang telah menjadi penyebabnya. Satu per-satu anggota tim mempunyai keluhan, ada yang ditumpahkan berulang-ulang, ada juga yang ditelan saja.

Pilihan bagi kita hanya dua: hidupkan detak jantung pengorbanan, atau mengedepankan keberatan dan keluhan kita yang secara pelan-pelan memperlemah detak jantung pengorbanan.

Dalam hal apa kita diperhadapkan dengan situasi harus berkorban ?

1. Waktu.

Ada saat-saatnya, di waktu harusnya kita sudah istirahat,,tetapi kita masih berkarya mencari chord chord lagu untuk ibadah, atau menyusun lagu-lagu, menulis naskah untuk acara, menghafal teks lagu, mendengar dan mempelajari lagu-lagu baru dari album-album rohani.

2. Uang.

Untuk latihan dan pertemuan, kita perlu ongkos.  Untuk bank lagu, kita perlu sisihkan sebagian uang untuk rajin membeli kaset dan CD lagu rohani, juga untuk seragam/kostum tim, untuk menelepon atau sms teman-teman sepelayanan untuk hadir latihan atau pertemuan tertentu. Untuk kegiatan camp atau retreat, kita perlu iuran. Jebakan serba salah, memilih untuk hitung-hitungan dengan pelayanan atau tidak hitung-hitungan tetapi nge-rem sebisa-bisanya.

3. Menerima dengan lapang dada ketika ide-ide atau harapan tidak diterima atau tinggal menjadi angan-angan saja.

Seorang Worship Leader punya harapan terhadap apa dan bagaimana para singernya harus mendukungnya. Seorang pemusik punya harapan dan keinginan bagaimana kecakapan dan keterampilan seorang Worship Leader tampil dan memimpin. Setiap anggota tim mempunyai harapan dan dukungan dari sosok Gembalanya, sekalipun sulit untuk digambarkan. Harapan dan keinginan… anda lebih tahu sudah berapa lama kerinduan anda telah menjadi percikan-percikan saja dalam sebuah tim. Ya kadang muncul kadang tenggelam, belum pernah terwujud.

4. Jerih payah tanpa penghargaan.

Untuk membuat suatu acara yang penuh makna dan memberkati banyak jemaat, perlu pemikiran, pengembangan ide, sampai pelaksanaan yang menyita tenaga. Tenaga yang tersisa dari pekerjaan rutin kita sehari-hari, harus di”set” seolah mengandung energi yang baru pada saat kita berkarya untuk pelayanan. Kenyataannya, itu adalah tenaga yang tersisa, setelah terkuras di kantor, di pekerjaan, di rumah tangga, dan sebagainya. Akhir dari semuanya, janganlah terkejut… suatu hari tepuk tangan akan tidak terdengar, tutur kata “terima kasih” dan “sanjungan” pun bisa berubah maknanya.

5. Menambal lubang-lubang.

Berbicara tentang sebuah tim musik dan pujian, kita berhadapan dengan ketidaksempurnaan orang lain, yang sebenarnya juga ketidaksempurnaan diri kita memberi kontribusi didalamnya. Sistem dan aturan yang diterapkan di dalam gereja tidak ada yang dapat melepaskan kita dari fungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan anggota, hanya saja dalam setiap gereja lokal tingkat toleransinya yang berbeda-beda. Peraturan apapun yang diterapkan, pasti ada lubang-lubang. Sebisa mungkin, kita menambal lubang-lubang pada tim kita yang tercipta oleh ketidaksempurnaan. Bahkan itu bukan suatu pilihan, tetapi keharusan yang menyebalkan.

Mungkin sebagian kita berkata, “saya tidak punya masalah dengan hal-hal diatas”. Bila kita tidak memiliki persoalan dengan pengorbanan, jangan-jangan…  kita memang tidak menjalani pelayanan kita dengan serius, dan kita menjadi anggota tim yang menciptakan lubang.

Ishak adalah harta terbesar dan paling berharga bagi Abraham,,, apakah yang menjadi hal terbesar dan paling berharga yang membawa kita harus memilih antara mengeluh atau merelakannya sebagai korban ??

Cerita detak jantung persembahan Abraham tidak berhenti sampai disitu…

Kejadian 22:12-14 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Allah memintanya, tetapi sesungguhnya Allah menyediakan gantinya. Saya senang ketika mengalami anggota tim kami yang penuh dedikasi melayani tak hitung-hitungan soal waktu, tenaga dan uang. Kami menyaksikan mereka satu per-satu diberkati dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Dari yang tidak punya pekerjaan mendapat pekerjaan. Bahkan, ada seorang anggota tim kami yang diberkati dengan keturunan setelah sekian lama pasangan ini menunggu dan menantikannya, tetapi ia setia dalam banyak hal tentang berkorban walau diwarnai dengan ketidaksempurnaannya dalam menyanyi.

Kejadian 22:16-17  kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri — demikianlah firman TUHAN –

……maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah ..

Tuhan bersumpah..  ini ikatan janji Tuhan dengan kita tentang berkat yang berlimpah-limpah. Tuhan sendiri membuat perjanjian demi namaNya sendiri kepada anak-anakNya yang menghidupkan pengorbanan sebagai detak jantung penyembahannya.

Seperti bagian sebuah lagu yang sering kita nyanyikan:

Aku percaya aaa…berkatMu atasku melimpah… KEBAJIKAN, KEMURAHAN selalu mengikutiku… ku puji ku sembah Kau Tuhan..

Ini bagian dari kehidupan seorang penyembah. Luar biasa.. ha ha ha… Inilah bagian kita ! haleluya ! Haleluya ! Terpujilah Dia