Empat Macam Hukuman

I. SEPERTIGA
1. HUKUMAN I: 1/3 DARAT
Wahyu 8:6-7
6 Dan ketujuh malaikat yang memegang ketujuh sangkakala itu bersiap-siap untuk meniup sangkakala. 7Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau.
Ini adalah bencana kebakaran terbesar; 1/3 dari bumi terbakar. Namun mengapa Tuhan mengijinkan hanya 1/3 saja dari bumi yang terbakar? Mengapa tidak seluruh bumi dibakar habis, sehingga masih ada 2/3 bagian bumi ini yang tidak terbakar, dimana manusia bisa bertahan hidup disitu, bahkan di tempat itu mereka masih bisa bertobat?
Hukuman Tuhan yang dicurahkan pada 1/3 bagian bumi adalah ketegasanNya atas dosa. Namun dibalik itu ada kemurahan Allah untuk 2/3 bumi yang tidak turut terbakar. Jadi disamping Allah mencurahkan hukuman, Allah juga mencurahkan kemurahan-Nya bagi orang yang masih mau bertobat dan kembali kepada jalan yang benar serta yang sungguh-sungguh melayani Tuhan. Bahkan kemurahan Tuhan jauh lebih besar daripada hukuman yang dijatuhkanNya. Inilah kebaikan Tuhan bahwa di dalam menjatuhkan hukuman, kemurahanNya masih lebih besar.
Dari ayat ini kita dapat mengenal pribadi Allah bahwa IA adalah Allah yang sebenarnya tidak gemar menjatuhkan hukuman. Allah tidak gemar membakar manusia, tetapi IA gemar menyayangi, memberkati dan menyelamatkan manusia. Namun sayang bahwa manusia itu sendiri yang menolak kasihNya. Itulah sebabnya “dengan terpaksa”, Allah mencurahkan hukuman atas bumi, dengan harapan bahwa manusia segera bertobat dan kembali kepada Allah. Tetapi sekalipun demikian, Tuhan masih mengikutkan Kemurahan-Nya yang ternyata jauh lebih besar daripada hukuman-Nya. Tuhan selalu memberi kesempatan yang besar kepada manusia untuk bertobat dan diselamatkan.

2. HUKUMAN II: 1/3 LAUTAN

Wahyu 8:8-9,
8Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, 9dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal.
Hukuman Tuhan jatuh atas 1/3 lautan, sehingga ada perang di lautan dan menyebabkan 1/3 laut menjadi darah. Ada pula pencemaran laut sehingga matilah 1/3 ikan dan mahluk hidup lainnya di dalam laut. Bau amis yang luar biasa. Bahkan 1/3 kapal-kapal binasa sehingga 1/3 pengiriman barang-barang lewat laut menjadi mati yang menyebabkan goncangan yang hebatdalam pasar dunia.
Mengapa 1/3 bagian laut dihukum dan masih disisakan 2/3 bagian? Sama seperti diatas bahwa 2/3 bagian itu adalah kemurahan Allah yang diberikan kepada manusia untuk bertobat. Ketika Allah menghukum manusia, IA melakukannya karena terpaksa. Seperti seorang bapa yang menghajar anaknya. Ketika bapa itu menghajar anaknya, hatinya tidak tertuju kepada hukuman atau pelanggaran anaknya, tetapi hatinya tertuju kepada harapan bahwa dikemudian hari anak itu dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah sebabnya hajaran yang diberikan selalu punya batas dan tidak pernah lebih besar dari pada rasa sayangnya kepada anak tersebut. Bahkan setiap kali ia terpaksa harus menghajar anaknya, hatinya-pun menangis; seolah-olah ia tidak tega melihat penderitaan anaknya akibat hajarannya itu. Demikian pula Bapa kita di Surga, yang selalu menyayangi kita, bahkan kemurahanNya bagi kita selalu lebih besar daripada hukuman yang diberikanNya.
3. HUKUMAN III: 1/3 SUNGAI DAN MATA AIR
Wahyu 8:10-11,
10Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air. 11Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.
Bintang besar jatuh dari langit dan menimpa 1/3 sungai-sungai dan mata-mata air. Bintang ini adalah adalah apsintus, bisa juga gambaran dari iblis atau antikris. Dituliskan bahwa 1/3 mata-mata air dan sungai-sungai menjadi pahit karena kena apsintus ini dan jika orang minum air yang telah terkontaminasi oleh apsintus maka orang tersebut akan mati. Akan banyak orang akan mati dalam kepahitan karena telah terkontaminasi oleh apsintus – roh kepahitan.
4. HUKUMAN IV: 1/3 MATAHARI, BULAN DAN BINTANG-BINTANG

Wahyu 8:12
Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari.
Terang siang hari menjadi sepertiga lebih gelap dan malam akan menjadi semakin gelap sebab 1/3 dari benda-benda penerang (matahari, bulan dan bintang) menjadi gelap. Kengerian yang dahsyat akan segera datang. Tidak ada tempat yang aman dan sejahtera selain di dalam Yesus. Oleh sebab itu persiapkanlah diri Anda – tinggalkan dosa dan hiduplah sesuai Firman Allah; dengan demikian Anda akan tetap merasa aman sekalipun dunia dan alam semesta bergejolak.
Kalau kita sudah membaca ayat-ayat diatas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri kebaikan Tuhan dan memuji Dia. Yang harus kita lakukan adalah bertobat dan hidup dalam FirmanNya.
II. DOA MENDAHULUI BENCANA-BENCANA
Dalam Wahyu ini dinubuatkan ada 21 macam hukuman yang akan menimpa dunia yang tidak mau bertobat. Mulai dari Wahyu 8:6-13 lalu fatsal 9 dan 10. Namun sebelum bencana-bancana itu terjadi, ada suatu gerakan doa yang terjadi di tengah-tengah umatNya (Wahyu 8:1-4). Doa-doa itu akan naik ke tahta Allah.
Wahyu 8:1-5,
1Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya. 2Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala. 3Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. 4Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. 5Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.
Apa yang mendahului bencana-bencana? Disini kita melihat jelas bahwa doa mendahului bencana-bencana. Bukan nanti doa datang terlambat; bencana sudah terjadi baru mau gerakkan doa. Doa itu diperlukan sebelum bencana demi bencana menimpa. Doa itu sudah mempelopori terlebih dahulu, sebelum 4 macam hukuman dijatuhkan. Jadi doa ini bukanlah doa-doa biasa tetapi ini adalah doa yang mendahulukan keselamatan umat Tuhan.
Kegerakan doa bukanlah ditandai dengan banyaknya seminar-seminar doa tetapi ditandai dengan semangat untuk berdoa secara universal dalam jemaat Tuhan. Banyak seminar-seminar yang diadakan tentang doa tetapi ketika sudah selesai, pulang ke rumah tidak pernah berdoa lagi. Jika demikian, apalah gunanya seminar tentang doa jika doanya tidak dilaksanakan. Tuhan mau agar kita tidak hanya ikut seminar-seminar doa namun hendaklah kita juga mengalami kegerakan Allah dalam gerakan doa.

1. BERAPA BANYAK?

Wahyu 8:3b Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
Berapa banyak kemenyan yang diberikan? Jumlahnya tidak ditulis secara rinci – tetapi diwakili dengan kata “banyak”. Ini berarti bahwa jumlah kemenyan itu adalah “tanpa batas”. Begitulah doa-doa yang dinaikkan tanpa batas. Semakin besar pergumulan yang akan dihadapi, maka semakin banyak pula doa yang dinaikkan.
Saya pun mengalami hal ini. Seringkali bahwa sebelum saya mengalami suatu pergumulan, Roh Kudus menggerakkan saya untuk berdoa. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi Roh Kudus yang mengetahui segala sesuatu memberi saya aba-aba. Saya menyadari bahwa semakin kuat dorongan itu untuk berdoa, maka semakin besar pula pergumulan yang akan saya hadapi. Dan hasilnya adalah doa adalah kunci kemenangan.
2. GURUH YANG DISERTAI HALILINTAR DAN GEMPA BUMI
Jangan tunggu sampai kemenyan itu habis baru mau berdoa. Sebab setelah kemenyan itu habis maka pedupaan itu diisi dengan api dari mezmah lalu dilemparkan ke bumi, lalu meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi (ayat 5).
Hanya ada 2 pilihan bagi kita, yaitu apakah kita mau mengalami kegerakan doa atau mengalami guruh yang disertai halilintar dan gempa bumi. Bagi mereka yang mengalami “kegerakan doa” maka mereka tidak akan mengalami “guruh, halilintar dan gempa bumi”. Sebaliknya, bagi mereka yang mengabaikan doa maka mereka akan mengalami guruh, halilintar dan gempa bumi. Plihan ada ditangan Anda; masa depan Anda tergantung dari pilihan Anda sekarang. Bila Anda memilih masa depan sebagai orang-orang yang diselamatkan dari hukuman maka sejak sekarang Anda harus belajar membiasakan diri untuk berdoa. Namun bila Anda menolak untuk berdoa berarti Anda telah menentukan masa depan Anda sebagai bagian dari orang-orang yang akan menerima hukuman.
3. SEKARANG ATAU NANTI?
Persiapan yang baik dan berguna selalu dilakukan sebelum hari H. Itulah yang dilakukan oleh 5 anak dara bijak. Tetapi 5 anak dara yang bodoh baru mau mempersiapkan dirinya pada “last minutes”. Akibatnya mereka tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri sebelum kedatangan mempelai. Sekalipun mereka telah mendapatkan minyak untuk pelitanya, tetapi sudah terlambat – sebab mempelai telah tiba dan pintu kemurahan telah ditutup (Baca: Matius 25:1-13).
Persiapan 5 dara yang bodoh ini menjadi mubasir oleh karena mereka suka menunda-nunda waktu. Waktu persiapan yang baik adalah SEKARANG! Jangan menunda waktu untuk bertobat, untuk berdoa dan untuk mempelajari FirmanNya. Sebab oleh menunda-nunda waktu persipan itulah, 5 dara ini disebut sebagai orang yang bodoh. Mereka terpaksa kehilangan hal-hal yang sangat berharga. Semestinya mereka tidak perlu kehilangan kesempatan untuk bersukacita dalam pesta perjamuan kawin, semestinya mereka tidak perlu mengalami bencana demi bencana dan tidak perlu mengalami hukuman – kalau saja mereka tidak menunda-nunda waktu untuk mempersiapkan diri.
Ambillah hikmah dari cerita dari “5 dara bijaksana dan 5 dara bodoh” ini. Jika Anda mempersiapkan diri mulai dari sekarang, maka Anda memiliki kesempatan untuk bersukacita dalam perjamuan kawin Anak Domba. Tetapi bila Anda menunda waktu persipan maka kemungkinan Anda bisa kehilangan kesempatan yang berharga itu. Orang yang mempersiapkan diri adalah orang yang menghargai waktu. Ingatlah bahwa “SEKARANG” adalah waktu yang tepat dan berguna, sedangkan “NANTI” bisa saja menjadi musibah.

4. KOMBIASI: DOA+BERDIAM+MENANTIKAN ALLAH
Kombinas antara doa, berdiam dan menanti dihadapan Allah adalah suatu sikap hidup yang mengundang kuasa Allah. Tetapi “diam dan menanti” yang bagaimanakah yang dimaksud?
Mazmur 123:1-2
1Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga.2Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita.

Penulis Mazmur ini ingin menggambarkan bagaimana seorang hamba yang berdiam diri menaruh pengharapannya kepada tuannya. “Seperti mata para hamba-hambanya” bukan mulut yang selalu terarah (memandang) pada tangan majikannya. Seringkali kita tidak mendapatkan apa-apa dari Tuhan oleh kerena kita terlalu banyak bicara – kita terlalu banyak meminta dan terus mengomel! Meminta kepada Tuhan tidaklah salah bila hal itu disertai dengan ucapan syukur. Tetapi orang yang meminta sambil mengomel adalah orang-orang yang tidak mengarahkan pandangannya kepada Tuannya. Pandangannya hanya tertuju kepada keinginan hatinya atau kepada masalah yang sedang dihadapi. Sama seperti bangsa Israel yang tidak dapat bersyukur oleh karena pandangan mereka telah dibutakan oleh keinginan hatinya sediri dan pergumulan-pergumulan hidup yang dialami. Tetapi kita, hendaklah kita seperti Yosua dan Kaleb yang terus mengarahkan padangan kepada Tuhan bukan dengan pandangan mata yang kosong, melainkan dengan satu pengharapan yang kuat untuk mendapatkan belas kasihan-Nya. Sebab dengan demikian kita akan dapat memperoleh penggenapan janjinya, seperti yang telah dialami oleh Yosua dan Kaleb.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa “diam dan menantikan Tuhan” adalah hal yang sulit dilakukan. Keinginan daging kita selalu ingin cepat dan instan. Tetapi waktu kita tidak sama dengan waktu Tuhan dan rancangan kita bukanlah rancangan Tuhan (Yesaya 55:8). Adalah lebih baik banyak berdoa dan sedikit berbicara ketimbang banyak berbicara tetapi sedikit berdoa- sebab dalam tinggal tenang dan percaya terdapat kekuatan Ilahi.
Untuk dapat menyesuaikan diri kita dengan rancangan Tuhan maka mata jasmani dan rohani kita haruslah berfokus kepada pribadi Allah. Kita tidak akan bisa tahan berdiam dan menanti dengan cara Tuhan bila focus kita terarah kepada masalah, kelemahan diri atau kepada orang yang membawa masalah bagi kita. Itulah sebabnya iblis selalu berusaha untuk mengalihkan fokus kita sehingga kita tidak lagi berfokus kepada Tuhan Yesus. Ketika kita tidak berfokus kepada Tuhan Yesus, maka kita akan kalah. Walaupun kita masih berdoa tetap kita akan kalah dan doa kita tidak berkuasa. Oleh sebab itu jangan pernah biarkan focus Anda melenceng kepada hal-hal lain – sebab hal itu dapat memperkeruh keadaan hidup Anda. Sayang sekali bahwa masih banyak orang Kristen yang suka berdoa tetapi salah fokusnya. Dan lebih parah lagi yaitu orang Kristen yang salah focus dan tidak mau berdoa.
Mengapa raja dan seluruh bangsa Israel begitu ketakutan ketika menghadapi Goliat? Oleh karena intimidasi yang dilakukan oleh Goliat (Baca: 1 Samuel 17). Goliat berhasil mengarahkan pandangan (focus) seluruh bangsa itu kepada kekuatannya. Keadaan mereka selalu dibandingkan dengan keadaaan Goliat. Ini merupakan kesalahan. Tidak perlu kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain; sebab Tuhan memakai setiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Allah tahu bagaimana memperlakukan kita. Bagian kita hanya percaya dan taat kepadaNya secara total.
Sekalipun seluruh bangsa itu telah terfokus kepada Goliat, namun ada satu orang yang tetap mempertahankan fokusnya kepada Tuhan, yaitu Daud. Hal ini terungkap lewat perkataannya baik kepada orang sebangsanya maupun terhadap Goliat (Baca: 1 Samuel 17:37, 45-47).
Itulah sebabnya mengapa Daud menang, yaitu karena ia tidak berfokus kepada masalah. Kunci kemenangan Daud adalah berfokus kepada Allah. Perhatikanlah apa yang dikatakan Daud: “Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami”. Allah-lah yang memberikan kemenangan itu kepada kita. Tidak ada jalan lain untuk meraih kemenangan demi kemenangan selain berfokus kepada Allah.
Jangan memperkatakan masalah-masalah Anda, tetapi perkatakanlah kedahsyatan Allah. Seringkali Allah terpaksa menggiring kita masuk ke dalam pencobaan hanya untuk mengajar mulut kita untuk diam. Inilah yang sering saya alami ketika saya berada di dalam masalah-masalah yang besar, yaitu Tuhan ajar saya untuk diam dan menyerahkan diri secara total kepadaNya. Biar Allah yang menjadi hakim dan jangan biarkan mulut Anda menghakimi orang lain atau diri sendiri. Setiap kali saya mau mengalami kemenangan, saya disuruh diam lebih dahulu, sebab menantikan waktu Tuhan adalah cara yang terbaik.
Mengapa kita disuruh diam? Karena Tuhan ingin bicara. Seringkali Tuhan tidak dapat berbicara kepada kita karena kita terus berbicara. Dengan terus berbicara, kita menutup kesempatan untuk Allah berbicara dan menunjukkan jalanNya.

Perhatikanlah apa yang dilakukan oleh seorang guru bila hendak mengajar. Tentu sang guru akan meminta murid-muridnya untuk diam terlebih dahulu sebelum ia mulai mengajar. Mengapa? Sebab guru tidak akan bisa mengajar dengan baik dan murid tidak akan memperhatikan dengan baik bila murid-muridnya tidak diam.
Jadi dengan berdiam, Anda memberi kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara. Jangan terus mengeluh dan mengomel, tetapi pujialah Tuhan diatas segala perkara. Berdiam diri termasuk tidak membuat pembelaan diri dihadapan Allah dan manusia. Tuhan lebih tahu bagaimana menyelesaikan masalah kita ketimbang diri kita sendiri. Biarkanlah Tuhan sendiri yang bertindak. Amin..